KONEKSI ANTAR MATERI-KESIMPULAN
DAN REFLEKSI PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA
LUQMAN HAKIM, M.PD.
(Guru SMAN 2 Siak Kecil Provinsi Riau-CGP Angkatan 2 Kab.
Bengkalis Tahun 2021)
Setelah mengikuti alur aktivitas pembelajaran PGP ini, di awali
kegitan mulai dari diri, eksplorasi konsep, ruang kolaborasi, refleksi terbimbing,
demontrasi kontektual dan elaborasi pemahaman, tiba saatnya masuk pada tahapan
koneksi antar materi sekarang ini. Tahap aktivitas pembelajaran koneksi antar
materi berupa kesimpulan dan refleksi pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD).
Yang memperkuat pemahaman itu saat aktivitas elaborasi pemahaman
yang dilaksanakan pada hari Senin, 26 April 2021 dengan konsep kegiatan berupa
webinar. Hadir narasumber ahli dan saksi hidup yaitu Bapak Ki Prio Dwiarso dari
Perguruan Taman Siswa yang dipandu oleh Bapak Simon Rafael selaku penulis modul
pemikiran KHD. Dengan hadirnya Ki Prio dan pertanyaan dari Pak Simon yang
mendalam tentang pemikiran KHD menjadikan pemahaman saya mengenai pemikiran KHD
menjadi lebih kuat karena saya merasa setelah mengikuti tahapan aktivitas
pembelajaran, kegiatan elaborasi ini betul-betul menguatkan pemahaman saya
mengenai pemikiran KHD ini.
Ki Prio Dwiarso ini semasa KHD, saat itu masih kelas 4, beliau
sangat merasakan didikan dari KHD. Beliau bercerita saat guru ilmu bumi
sekarang geografi menggambar peta Indonesia di papan tulis, KHD malah mengajak
anak-anak untuk keluar kelas agar membuat peta pulau jawa menggunakan pasir di
luar kelas. Kemudian KHD mengangkat batu dan bertanya kepada anak-anak mengenai
beberapa daerah agar menunjukan daerah dengan meletakkan batu di peta jawa yang
terbuat dari pasir tersebut. Hal ini menurut Ki Prio apa yang sudah dilakukan
KHD adalah kegiatan bermain sambil belajar. Bermain sebagai kodrat anak-anak
sebagai insan di dunia dari Allah SWT, anak saat belajar tidak boleh ada
paksaan. Misalnya saat anak memecahkan gelas itu hal biasa karena
ketidaktahuannya maka anak itu diberitahu dengan baik.
Selanjutnya menurut Ki Prio, menyatakan bahwa Ki Hadjar itu
sederhana saja mengenai konsep sekolah seperti taman dengan sistem among yang
memerdekakan lahir dan bathin sejak dini. Nuansa saat belajar d sekolah
semuanya muatannya dengan permainan misalnya untuk mengingat abjad atau huruf
dengan cara dinyanyikan. Ki Prio bercerita sampai sekarang aktivitas saat
belajar dengan KHD saat itu masih teringat sampai sekarang sehingga saya bisa
bercerita apa yang pernah saya alami saat itu.
Ki Prio melanjutkan paparannya bahwa KHD itu pemikirannya untuk
multikultur dan nasionalis. KHD berkonsultasi dengan KH Ahmad Dahlan sebagai
senior dari KHD mengenai pendidikan. Seperti kita ketahui bahwa KH Ahmad Dahlan
tokoh dari Muhammadiyah yang sampai sekarang terus berkembang pendidikan
Muhammadiyah di berbagai daerah di Indonesia. KH Ahmad Dahlan menyarankan kepada
KHD agar membuat Perguruan Nasional sehingga pada tahun 1922 KHD mendirikan
Taman Siswa. Pendirian Taman Siswa ini sebagai bentuk perguruan nasional yang
mereformasi pendidikan dengan melihat bakat anak, yang memerdekakan lahir dan
bathin. Perguruan Taman Siswa menggunakan asas kekeluargaan terdiri dari
keluarga, sekolah dan masyarakat atau pemuda. Keluarga merupakan bagian yang
utama sebagai pembentukan karakter dasar bagi anak seperti yang diterapkan pada
pendidikan pondok pesantren, perguruan dan sekolah taruna yang pembelajarannya
berbasis asrama, hal ini merupakan bagian dari perguruan Taman Siswa.
Metode Ki Hadjar itu relevan untuk masa depan. KHD ini brilian
bertalenta yang berpikir melalui zamannya. KHD berupaya menyiapkan jiwa yang
merdeka lahir dan bathin. Saat masa penjajahan kolonial berupaya untuk
kemerdekaan bangsa dalam mencapai kemanusiaan yang adil dan beradab. Pemikiran
KHD ini dapat berlaku selamanya dengan adanya kodrat alam dan kodrat zaman
untuk kemajuan. Kodrat alam sebagai kuasa Tuhan, kodrat Allah, setiap anak
sudah memiliki bakat, talenta, minat serta garisnya masing-masing. Sebagai guru
mesti mengetahui bakat dan minat anak serta tidak boleh memaksakan kepada anak
akan sesuatu hal. Teori Tabula rasa yang menyatakan bahwa setiap anak itu
ibarat kertas kosong, kita sebagai guru bisa menuliskan apa saja dalam kertas
itu. KHD menentang teori Tabula Rasa ini karena KHD menyatakan bahwa setiap
anak sudah memiliki garis yang masih suram sebagai guru bertugas menebalkanya. Asalkan
minat yang positif dari anak kita hasrus dukung seperti kepada anak kandung
kita. Misalnya keinginan anak untuk menjadi tentara yang kita tuntun untuk
mengikuti pendidikan di akabari.
Trilogi Pendidikan dari KHD yang kita kenal sebagai semboyan Ing
Ngarso Sung Tulodo, Ing Mandyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Sebagai urutan
semboyan ini dimulai dari Tut Wuri Handayani, sebagai guru kita menuntun anak
agar aktif untuk mencari tahu tidak hanya pasif diberi tahu. Siswa diarahkan
untuk mempelajari terlebih dahulu sebelum pembelajaran dilakukan dari berbagai
sumber pembelajaran sehingga akan membangkitkan rasa ingin tahu dari anak. Yang
kedua, Ing Madyo Mangun Karso, semangat dalam hal yang positif yang memberikan
manfaat untuk masyarakat dan bangsa dan yang terakhir, Ing Ngarso Sung Tulodo,
sehingga bisa memberi teladan.
Asas Trikon dalam pendidikan juga sangat penting. Yang pertama
konvergen, yaitu keterbukaan akan dunia luar. Yang kedua konsentris, terus
dipertahankan budaya luhur kita seperti bhineka tunggal ika, musyawarah
mufakat, gotong royong sebagai akar budaya kita dan yang ketiga kontinue bahwa
hasil budaya kita terus dipertahankan atau diolah secara terus menerus demi
keberlanjutan bangsa dan Negara kita.
Yang saya percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas
sebelum mempelajari modul ini bahwa murid saya itu memiliki kemampuan yang
seragam sehingga dalam pembelajaran menggunakan metode yang konvensional juga.
Murid juga bukan bagian dari fokus saya sebagai guru hanya sebatas melaksanakan
kewajiban tugas sebagai guru semata sehingga pembelajaran dilakukan alakadarnya
saja.
Yang berubah dari pemikiran dan perilaku saya setelah
mempelajari modul ini adalah:
1. Murid menjadi fokus
utama saya sebagai guru,
2. Murid memiliki bakat
dan minatnya masing-masing, guru bertugas menuntun murid sesuai minat dan
bakatnya juga
3. Metode bermain saat
pembelajaran ini mesti diterapkan karena bermain sebagai kodrat anak-anak di
dunia,
4. Sekolah menerapkan sistem
among karena sekolah seperti taman yang menyenangkan dalam rangka memerdekakan
lahir bathin anak sejak dini,
5. Pendidikan karakter
dari keluarga menjadi hal utama sebagai pendidikan karakter dasar bagi anak
yang didukung pendidikan karakter baik di sekolah maupun di masyarakat yang
mengedepankan asas kekeluargaaan,
6. Adanya kodrat alam dan
kodrat saman karena bagian dari kuasa Tuhan, kodrat Allah bahwa setiap anak itu
sudah memiliki bakat, minat, talenta dan garis yang ditetapkan, tidak boleh
memaksakan kehendak kita kepada anak, minat anak yang positif perlu kita dukung
sebagai guru harus mengetahui bakat dan minat setiap anak.
7. Murid perlakukan
seperti anak kandung yang berupaya mendidik dengan penuh kasih saying.
Yang bisa segera saya terapkan lebih baik agar kelas saya
mencerminkan pemikiran KHD adalah
1. Saya segera memetakan
minat dan bakat yang ada pada murid-murid saya.
2. Saya segera mengubah pola
pikir saya bahwa murid menjadi fokus utama saya sebagai guru.
3. Saya akan segera
memperbaharui metode pembelajaran dari konvensional menjadi pembelajaran dengan
metode PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan)
dalam rangka memerdekakan lahir bathin anak sejak dini.
4. Saya segera
memperlakukan murid seperti anak kandung agar berupaya mendidik seperti anak
sendiri dengan penuh kasih sayang.
Demikian kesimpulan dan refleksi saya mengenai pemikiran KHD
baik sebelum, sesudah mempelajari modul serta penerapan bagi saya sebagai guru
di sekolah. Terima Kasih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar