LUQMAN HAKIM, M.Pd (SMAN 2 SIAK KECIL PROVINSI RIAU) SAHABAT RUMAH BELAJAR (SRB) 2020 RIAU RUMAH BELAJAR KEMDIKBUD belajar.kemdikbud.go.id FITUR UTAMA: SUMBER BELAJAR-KELAS DIGITAL-LABORATORIUM MAYA-BANK SOAL

Kamis, 01 Juli 2021

KESEPAKATAN KELAS SEBAGAI LANGKAH AWAL DALAM MEMBANGUN BUDAYA POSITIF YANG BERPIHAK PADA MURID DI SEKOLAH

 

A.      Latar belakang tentang situasi yang dihadapi oleh Calon Guru Penggerak 

Guru berperan sebagai pamong yang selalu menuntun murid dalam belajar. Guru juga menjadi inisiator dalam mewujudkan budaya positif di sekolah yang berpihak pada murid. Mengapa budaya positif di sekolah perlu diwujudkan? mengenai potret budaya sekolah, kita dapat mempelajari budaya sekolah yang berdampak baik pada pengembangan karakter murid. Sebagai contoh misalnya aktivitas guru mengajak murid berkeliling sekolah untuk mengamati lingkungan sekolah dapat membuat murid menganalisis permasalahan yang terjadi di sekolah dan mendiskusikan solusinya. Aktivitas tersebut menumbuhkan karakter bernilai kritis pada murid. Oleh karena itu, kita sekarang dapat memahami bahwa sekolah merupakan institusi pembentukan karakter. Maka, budaya positif perlu diciptakan agar dapat mendukung pembentukan karakter murid yang diharapkan.

Budaya sekolah menurut Fullan (2007) adalah keyakinan-keyakinan dan nilai-nilai yang terlihat dari bagaimana sekolah menjalankan aktivitas sehari-hari. Sedangkan Deal dan Peterson (1999) mendefinisikan budaya sekolah sebagai berbagai tradisi dan kebiasaan keseharian yang dibangun dalam jangka waktu yang lama oleh guru, murid, orang tua, dan staf administrasi yang bekerjasama dalam menghadapi berbagai krisis dan pencapaian. 

Dari kedua pengertian tersebut kita melihat bahwa budaya sekolah merupakan nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan yang dibangun dalam jangka waktu lama yang tercermin pada sikap keseharian seluruh komponen sekolah. Dalam kebanyakan sekolah di Indonesia, contoh budaya sekolah yang sudah berjalan dengan baik adalah budaya senyum, salam, dan sapa. Tentunya, budaya sekolah tersebut masih perlu dilaksanakan mengingat perannya yang dapat membuat sekolah menjadi lingkungan yang nyaman. 

Budaya positif di sekolah ialah  nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab. Dalam mewujudkan budaya positif ini, guru memegang peranan sentral. Guru perlu memahami posisi apa yang tepat untuk dapat mewujudkan budaya positif baik lingkup kelas maupun sekolah. Selain itu, pemahaman akan disiplin positif juga diperlukan karena sebagai pamong, guru diharapkan dapat menuntun murid untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab.

Dalam menumbuhkan disiplin pada diri murid secara intrinstik, guru perlu berperan pada posisi kontrol manajer yang bertanya dan membuat kesepakatan kelas bila murid melakukan kesalahan atau pelanggaran, bukan menuduh, memberi hukuman atau sebagai teman yang membiarkan murid melakukan kesalahan atau pelanggaran. Hal ini dilakukan karena pendidik sebagai pamong yaitu “menuntun” atau memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. Anak diberi kebebasan, namun perlu  diberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Oleh karena itu, pada kesehariannya, pamong juga berperan sebagai pengontrol untuk mengingatkan murid jika berada dalam bahaya. Pada kesempatan lain, guru juga dapat berperan sebagai teman ketika berinteraksi agar dapat memahami murid dan membangun kedekatan.

Disiplin positif adalah sebuah model disiplin yang difokuskan pada perilaku positif murid agar menjadi pribadi yang penuh hormat dan bertanggung (Nelsen, Lott & Glenn, 2000). Disiplin positif mengajarkan keterampilan sosial dan emosional dan keterampilan kehidupan yang penting dengan cara penuh hormat  dan membesarkan hati tidak hanya bagi murid tetapi juga bagi orang dewasa (termasuk orangtua, guru, staf administrasi dan lainnya). Kebalikan dari disiplin positif adalah disiplin negatif yang berfokus pada hukuman. Disiplin negatif cenderung menghambat perkembangan sosial, emosional dan keterampilan hidup murid. Dengan disiplin positif, guru diharapkan dapat mewujudkan budaya positif baik di kelas maupun sekolah.

Untuk melakukan pendekatan disiplin positif, guru perlu menjadikan kriteria disiplin positif yang dikembangkan oleh Nelsen (2021) ini sebagai panduan dalam membangun hubungan dengan murid.

1.       Bersikap baik dan tegas di saat yang bersamaan (menunjukkan sikap hormat dan memberi semangat).

2.       Membantu murid merasa dihargai dan memiliki keterikatan antara dirinya dengan guru dan teman di kelasnya, sehingga ia merasa menjadi bagian dari kelas.

3.       Memiliki komitmen untuk mempertimbangkan efektivitas dan dampak jangka panjang bagi proses belajar murid dari tindakan yang diambil (misalnya; pemberian hukuman bersifat dapat menyelesaikan masalah dalam jangka pendek, tetapi berpotensi memberikan dampak negatif dalam proses belajar pada anak yang bersifat jangka panjang). Dengan begitu, pendidik fokus pada perubahan dan peningkatan perilaku yang menetap, bukan hanya pada perilaku yang berhasil ditampakkan pada saat itu.

4.       Menerapkan disiplin positif berarti membekali murid dengan keterampilan sosial dan mendukung pertumbuhan karakter yang baik seperti rasa hormat, kepedulian terhadap orang lain, komunikasi yang efektif, pemecahan masalah, tanggung jawab kontribusi, kerja sama.

5.       Mengajak murid untuk menemukan bagaimana mereka mampu dan dapat menggunakan kekuatan diri mereka dengan cara yang membangun.

Menerapkan pendekatan disiplin positif dapat membantu sekolah memainkan peran penting dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil dan manusiawi. Murid cenderung menjadikan orang dewasa sebagai model; jika  murid melihat orang dewasa menggunakan kekerasan fisik atau psikologis, mereka akan belajar bahwa kekerasan dapat diterima sehingga ada kemungkinan mereka akan menggunakan kekerasan terhadap orang lain. Sekolah memiliki peran penting dalam membimbing, memperbaiki, dan mensosialisasikan kepada  murid mengenai perilaku yang sesuai. Agar perubahan berhasil, diperlukan pendekatan terkoordinasi yang melibatkan semua peran di komunitas sekolah. Sekolah perlu bekerja dengan orangtua untuk memastikan konsistensi antara rumah dan sekolah, serta membekali mereka dengan informasi dan alat untuk mempraktekkan disiplin positif di rumah.

Upaya dalam membangun budaya positif di sekolah yang berpihak pada murid diawali dengan membentuk lingkungan kelas yang mendukung terciptanya budaya positif, yaitu dengan menyusun kesepakatan kelas. Kesepakatan kelas yang efektif dapat membantu dalam pembentukan budaya disiplin positif  di kelas. Hal ini juga dapat membantu proses belajar mengajar yang lebih mudah dan tidak menekan. Seringkali permasalahan dengan murid berkaitan dengan komunikasi antara murid dengan guru, terutama ketika murid melanggar suatu aturan dengan alasan tidak mengetahui adanya aturan tersebut. Kurang adanya komunikasi ini menyebabkan relasi murid dan guru menjadi kurang baik.

Kesepakatan kelas berisi beberapa aturan untuk membantu guru dan murid bekerja bersama membentuk kegiatan belajar mengajar yang efektif. Kesepakatan kelas tidak hanya berisi harapan guru terhadap murid, tapi juga harapan murid terhadap guru. Kesepakatan disusun dan dikembangkan bersama-sama antara guru dan murid.

Dalam menyusun kesepakatan kelas, guru perlu mempertimbangkan hal yang penting dan hal yang bisa dikesampingkan. Murid dapat mengalami kesulitan dalam mengingat banyak informasi, jadi susunlah 4 - 8 aturan untuk setiap kelas. Jika berlebihan, murid akan merasa kesulitan dan tidak mendapatkan makna dari kesepakatan kelas tersebut. Kesepakatan harus disusun dengan jelas sehingga murid dapat memahami perilaku apa yang diharapkan dari mereka. 

Kesepakatan yang disusun sebaiknya mudah dipahami dan dapat langsung dilakukan. Oleh karena itu, dalam kesepakatan kelas gunakan kalimat positif seperti, “Saling menghormati” ,“Berjalan jika berada di lorong kelas”. Kalimat positif lebih mudah dipahami murid dibandingkan kalimat negatif yang mengandung kata seperti, “dilarang” atau “tidak”. 

Kesepakatan perlu dapat diperbaiki dan dikembangkan secara berkala, seperti setiap awal semester. Untuk mempermudah pemahaman murid, kesepakatan dapat ditulis, digambar, atau disusun sedemikian rupa sehingga dapat dipahami dan disadari oleh murid. Strategi lain adalah dengan mencetaknya di setiap buku laporan kegiatan murid. Hal ini menjadi strategi yang baik untuk meningkatkan komunikasi antara orang tua dan pihak sekolah.

B.   Deskripsi Aksi Nyata yang dilakukan, berikut alasan mengapa melakukan aksi tersebut 

Aksi nyata yang dilakukan dimulai dari kelas saya sendiri sebagai langkah awal membangun budaya positif sekolah dengan membuat kesepakatan kelas. Isi dari kesepakatan kelas mengenai aturan yang membantu guru dan murid bekerja sama menciptakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang lebih efektif. Aturan dibuat bersama saya sebagai guru bersama murid-murid saya. Kesepakatan kelas yang dibuat tidak lebih dari 8 aturan pada setiap kelasnya supaya kesepakatan yang dibuat lebih bermakna. Kesepakatan kelas pun dibuat secara jelas sehingga murid dapat memahami perilaku apa yang diharapkan dari kesepakatan kelas tersebut.

Selain itu juga, kesepakatan kelas dibuat dengan menggunakan kalimat-kalimat yang positif misalnya “saling bekerjasama”, saling menghargai teman” dan lain-lain. Hindari menggunakan kalimat negatif seperti “jangan”/”dilarang” atau “tidak” karena murid akan lebih memahami kalimat positif dibandingkan kalimay negatif.

Kesepakatan kelas juga di evaluasi secara berkala. Bagaimana efektifitas dari kesepakat kelas selama satu semester?apakah guru dan murid sudah melaksanakan kesepakatan kelas?bagaimana jika ada guru dan murid yang melanggar kesepakatan kelas? Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan sebagian contoh saat dilakukan evaluasi dan umpan balik mengenai kesepakatan kelas.

 C.      Hasil dari Aksi Nyata yang dilakukan 

Hasil dari aksi nyata membuat kesepakatan kelas sebagai langkah awal dalam membangun budaya posistif yang berpihak pada murid di sekolah bahwa tersusunnya kesepakatan kelas antara guru dan murid. Terdapat 5 aturan yang dibuat hasil dari kesepakatan kelas.


D.      Pembelajaran yang didapat dari pelaksanaan (kegagalan, keberhasilan, dan hal-hal yang tidak sesuai dengan rancangan aksi nyata)

Pembelajaran yang diperoleh dalam menyusun kesepakatan kelas adalah kesepakatan kelas ini merupakan hal baru yang memerlukan pembiasaan pada kelas. Kesepakatan kelas bisa dibuat oleh wali kelas bersama murid-murid atau guru mata pelajaran bersama murid-murinya juga. Melalui penerapan hal baru ini tentunya memerlukan adaptasi secara perlahan sehingga kedepan guru dan murid terbiasa dengan adanya kesepakatan kelas ini.

 E.       Rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang

Rencana perbaikan mendatang, yaitu mengajak kepada seluruh kelas di awal tahun pelajaran baru membuat kesepakatan kelas dan dibuat poster kesepakatan kelas serta menempelkannya di kelas sehingga kesepakatan kelas akan terlihat terus setiap harinya. Guru dan murid berusaha mentaati aturan yang tertulis dalam kesepakatan kelas dan jika ada yang melanggar kesepakatan kelas akan diberikan pemahaman oleh guru sehingga terciptanya motivasi internal dari dalam diri murid yang akhirnya disiplin positif akanterbentuk menjadi budaya positif di kelas bahkan sekolah.

 F.       Dokumentasi proses dan hasil pelaksanaan berupa foto-foto berikut caption/narasi singkat nya. 

Kesepakatan kelas akan diterapkan di Tahun Pelajaran baru 2021/2022 mendatang pada tanggal 12 Juli 2021.  Berikut dokumentasi pertemuan awal dengan murid di akhir Tahun Pelajaran 2020/2021 bahwa mulai Tahun Pelajaran baru nanti akan dibuat Kesepakatan Kelas sebagai langkah awal mewujudkan budaya positif yang berpihak pada murid di kelas dan sekolah.


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar

3.3.a.10. AKSI NYATA PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID DI SMAN 2 SIAK KECIL PROVINSI RIAU

  3.3.a.10. AKSI NYATA PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID DI SMAN 2 SIAK KECIL PROVINSI RIAU Oleh : LUQMAN HAKIM SMAN 2...