LUQMAN HAKIM, M.Pd (SMAN 2 SIAK KECIL PROVINSI RIAU) SAHABAT RUMAH BELAJAR (SRB) 2020 RIAU RUMAH BELAJAR KEMDIKBUD belajar.kemdikbud.go.id FITUR UTAMA: SUMBER BELAJAR-KELAS DIGITAL-LABORATORIUM MAYA-BANK SOAL

Senin, 18 Oktober 2021

3.3.a.10. AKSI NYATA PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID DI SMAN 2 SIAK KECIL PROVINSI RIAU

 

3.3.a.10. AKSI NYATA

PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID

DI SMAN 2 SIAK KECIL PROVINSI RIAU

Oleh :

LUQMAN HAKIM

SMAN 2 Siak Kecil

PGPAngkatan 2 Kab.Bengkalis

Fasilitator : Firdaus, M.Pd

Pengajar Praktik : Hj. Nani Handayani, S.Pd

 

 

Peristiwa (Facts): Deskripsi singkat Aksi Nyata

Aksi nyata yang dilakukan berupa Program Career Day bagi murid kelas XII dikarenakan pentingnya murid mengetahui rencana masa depan mereka ditentukan saat ini. Selama ini juga murid kelas XII belum mengetahui gambaran nyata bagaimana kelanjutan mereka setelah lulus SMA. Oleh Karena itu diperlukan program layanan khusus bagi murid kelas XII dengan nama Program Career Day kelas XII di SMAN 2 Siak Kecil. Hasilnya diharapkan murid kelas XII sudah mengetahui rencana mereka setelah lulus SMA. Apakah akan melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi atau bekerja?harapan nya adalah mereka dapat melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi baik PTN maupun PTS. 

Perasaan (Feelings): Perasaan ketika atau setelah menjalankan Aksi Nyata

Perasaan saya sangat bahagia ketika sudah memiliki rencana yang matang setelah lulus SMA. Apalagi rencana mereka dapat melanjutkan ke Perguruan Tinggi yang menjadi minat dan bakatnya serta apa yang mereka cita-citakan sebelumnya.

Pembelajaran (Findings): apa saja yang didapatkan

Pembelajaran yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan keseluruhan aksi bahwa mereka sangat memerlukan bimbingan karir apalagi sudah kelas XII SMA, sebenarnya program bimbingan ini dapat dilakukan sejak dini misalnya dimulai dari kelas X dengan melakukan identifikasi cita-cita sebagai tujuan hidup mereka yang akan menjadikan arah kehidupan mereka di kemudian hari. Sebagai guru semestinya berperan serta agar cita-cita dan harapan besar mereka dapat diwujudkan.

Perubahan (Future): Rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa yang mendatang

Program Career Day ini sebaiknya dilaksanakan lebih awal di kelas X karena ada jangka waktu 3 tahun untuk mempersiapkan diri lebih awal menghadapi rencana setelah lulus SMA. Jika membutuhkan dana untuk melanjutkan murid dan orang tua berkomunikasi dan memperssiapakn biaya sejak dini mislnya dengan menabung. Jika ini terwujud, murid-murid yang memiliki cita-cita dan harapan kehidupa yang lebih baik akan tercapai optimal. Sebagai kebahagian bagi guru adalah murid nya sukses dan mandiri di kehidupannya.

 

Kamis, 14 Oktober 2021

3.1.a.8.1 Koneksi Antar Materi PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN


 

3.1.a.8.1 Koneksi Antar Materi

PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

Oleh :

LUQMAN HAKIM

SMAN 2 Siak Kecil

PGPAngkatan 2 Kab.Bengkalis

Fasilitator : Firdaus, M.Pd

Pengajar Praktik : Hj. Nani Handayani, S.Pd

 

·         Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

 

Ki Hadjar Dewantara mengatakan, seorang guru itu ibarat petani yang menanam benih pada tanah, jika benih tersebut meski dengan kualitas sedang namun ditanam pada tanah yang subur  diberi pupuk dan dialiri air yang cukup, maka akan tumbuh menjadi tumbuhan yang subur, begitu pula sebaliknya, Meski benih tersebut berkualitas baik namun ditanam pada tanah yang gersang dan tidak diairi air secukupnya maka benih tersebut tidak akan tumbuh.

 

Filosofi yang sangat terkenal juga dari Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, yaitu :

Pratap Triloka sebuah filosofi mengenai sosok guru dan perannya di dalam pendidikan seorang anak.

“Ing ngarso sung tulodho” yang secara spesifik memiliki arti di depan memberikan teladan, merupakan peran seorang sosok guru untuk selalu memberikan teladan atau contoh bagi murid-muridnya. Untuk dapat memberikan teladan, maka seorang guru harus terlebih dahulu menghidupi keteladanan tersebut. Seorang guru dapat menjadi teladan dengan terlebih dahulu menempatkan kepentingan murid menjadi sebuah fokus utama. 

 

Dalam istilah lain KHD juga menyebutkan bahwa guru haruslah menghamba pada anak, menghamba dalam artianya seorang guru memberi kebebasan kepada muridnya untuk melakukan sesuatu sesuai dengan potensi yang dimilikinya, guru bertugas sebagai fasilitator untuk menuntun atau mengarahkan murid agar potensi tumbuh kembang sesuai kodrat iradatnya.

 

“Ing madyo mangun karso” memiliki arti di tengah memberikan serta membangun semangat. Sebagai penyemangat, maka seorang guru harus terlebih dahulu dipenuhi oleh semangat tersebut. Semangat yang membara untuk murid-muridnya dapat mencapai kemajuan serta kebahagiaan. Di sinilah peran guru untuk terus menyemangati agar murid-muridnya agar bertahan dan terus maju. 

 

Guru dapat berperan sebagai rekan/ teman/ sahabat bahkan orang tua bagi murid agar mereka merasa tidak sendirian dalam mengarungi pendidikan yang sedang dijalani dan memiliki kepercayaan bahwa guru akan selalu ada memberikan kekuatan dan tuntunan di saat yang paling dibutuhkan. Guru juga akan selalu memberi semangat  dan mendoakan sampai kapanpun.

 

“Tut wuri handayani” memiliki arti mengikuti serta memberikan dorongan dari belakang. Dalam hal ini guru berperan sebagai motivator bagi murid dengan memberi kesempatan/peluang seluas-luasnya untuk mulai melangkah secara mandiri dalam menemukan potensinya, guru terus membimbing apa yang dibutuhkan oleh murid tersebut untuk membangkitkan kembali semangatnya dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya.

 

·         Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Setiap guru memiliki karakter yang beragam, akan tetapi jika guru nilai-nilai seperti nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak kepada murid, yang sudah tertanam pada diri seorang guru maka ketika dihadapkan untuk mengambil sebuah keputusan, maka seorang guru tersebut akan mampu mengambil keputusan terbaik yang bijak dan menjadi solusi bagi semua.

·         Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Dalam pengambilan suatu keputusan tentunya harus memiliki sebuah landasan berupa fakta-fakta dari situasi yang dihadapi, di dalam menggali fakta-fakta tersebut langkah yang efektif dapat memanfaatkan parktek coaching sehingga kita bisa menggali hal-hal penting atau informasi yang dapat membantu kita untuk menentukan keputusan yang bijak.

 

·         Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Agar dalam pengambilan sebuah keputusan yang tepat dan tidak melanggar paradigma dilema etika, pada studi kasus, adanyanstudi kasus yang tentunya menambah pemahaman dalam memahami studi yang berisi dilemma etika atau kasus yang merujuk pada bujukan moral sehingga akan terlihat perbedaan diantara keduanya. Pada setiap studi kasus

·         Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Sebagai pemimpin pembelajaran agar dalam mengambil keputusan nantinya menjadi tepat maka perlu mempertimbangkan bahwa keputusan kita akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Namun dalam pengambilan keputusan, dapat mengkaji 9 langkah-langkah dalam pengambilan keputusan :

 

1)      Mengenali adanya nilai nilai yang saling bertentangan,

 

2)      Mempertimbangkan siapa saja yang terlibat dalam situasi tersebut,

 

3)      Mengumpulkan seluruh data dan fakta yang relevan, lalu kita wajib

 

4)      Menguji benar lawan salah. Uji tersebut dapat meliputi:

 

a.       uji legal untuk melihat apakah ada ranah hukum yang dilanggar,

 

b.      uji regulasi profesionalitas untuk melihat apakah ada yang bertentangan dengan aturan secara profesional,

 

c.       uji intuisi mengecek apa kata hati nurani kita,

 

d.      uji publikasi dan juga

 

e.      uji panutan atau idola.

 

5)      Bila keputusan tersebut lolos melalui uji benar lawan salah, maka harus dilakukan uji benar lawan benar di mana kita dapat memandangnya dari empat paradigma yang ada meliputi:

 

a.       Individu lawan masyarakat (individual vs community),

 

b.      rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy),

 

c.       kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty), dan

 

d.      jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term).

6)      Kemudian permasalahan ini kita coba cari resolusinya dengan menggunakan cara pandang atau prinsip resolusi penyelesaian dilema. Apakah kita akan memandangnya melalui prinsip

 

a.       Berpikir Berbasis Hasil Akhir (End-Based Thinking),

 

b.      Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), atau

 

c.       Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

 

7)      Kemudian kita juga dapat mencari jalan tengah yang dapat diambil atau seringkali disebut Investigasi Opsi Trilema agar keputusan tidak harus saling berlawanan (win win solution).

 

8)      Bila semua telah dipertimbangkan maka kita dapat dengan yakin mengambil keputusan akhir yang terbaik serta

 

9)      Direfleksikan kembali, apakah keputusan tersebut sudah yang terbaik yang dapat diambil.

 

 

·         Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Kesulitan-kesulitan dalam pengambilan keputusan sulit dan bertentangan seringkali terletak pada paradigma masing masing pihak dalam memandang situasi tersebut. Semua pihak yang terlibat mesti memiliki cara pandang yang sama serta penekanan kepentingan yang selaras, maka akan mdah dijadikan sebuah keputusan yang baik. 

Bila semua dapat berkomunikasi dengan baik dan menyatukan pendapat mengenai paradigma yang akan dipakai dalam memutuskan sebuah permasalahan, maka kesulitan-kesulitan tersebut akan dapat diatasi.

 

·         Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Sebagai pemimpin pembelajaran, guru harus tepat dalam mengambil keputusan. Ketika seorang guru mengambil sebuah keputusan yang berpihak kepada murid dengan melihat potensi atau minat murid tersebut maka hasil keputusan akan berdampak baik bagi murid kedepannya.

 

·         Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Murid ibarat kata sebuah benih yang dirawat untuk tumbuh. Namun dalam menuntun tumbuh kembang murid menjadi manusia yang mendapat kebahagiaan guru harus tepat dalam mengambil keputusan untuk muridnya. Sehingga ketika seorang guru mampu mengenali karakter atau apa yang dibutuhkan oleh muridnya, maka guru tersebut akan mengambil keputusan yang terbaik untuk muridnya.

·         Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Menuntun tumbuh kembang kodrat anak agar dapat menjadi manusia yang sebenar-benarnya serta mendapatkan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Seorang guru sebagai pamong semestinya mampu memberikan sebuah keputusan yang tepat untuk murid-muridnya. Guru harus memiliki nilai dan peran yang sebagai pemimpin pembelajaran sehingga ketika nilai dan peran tersebut diterapkan maka akan mampu menuntun tumbuh kembang anak mengembangkan potensi anak sesuai kodrat nya, diantaranya dengan menerapkan budaya-budaya positif kepada anak sehingga dengan melalui budaya positif tersebut karakter anak perlahan-lahan akan terbentuk, serta menumbuhkan kesadaran sosial emosional anak dengan menerapkan beberapa teknik tertentu. 

 

Melalui proses pembelajaran pula guru dapat memenuhi kebutuhan murid dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, sehingga apa yang dibutuhkan setiap anak pada saat itu akan terpenuhi. 

 

Selain itu dalam menumbuhkan kepercayaan diri seorang anak dan menemukan solusinya sendiroi serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis anak, guru dapat melakukan coaching kepada anak yang terlihat memiliki sebuah permasalahan. Dengan menuntunnya dalam menemukan sendiri solusi dari permasalahannya maka anak tersebut dapat belajar untuk menghadapi atau memecahkan sendiri permasalahan yang dihadapinya dikemudian hari.

Kamis, 12 Agustus 2021

Mudah Mengakses Data dengan Google Drive

 

Mudah Mengakses Data dengan Google Drive


Masalah, Dampak, Solusi



Masalah:

Masalah saya sebelum ada akun belajar.id saya menggunakan gmail pribadi yang kapasitas drive nya terbatas hanya 15 GB saja. Saya sebagai wakil kepala sekolah bidang kurikulum dituntut untuk menemukan solusi pembelajaran jarak jauh di masa pandemi covid 19. Akhirnya saya mencoba menggunakan Google Classroom dan Google Meet dengan akun gmail pribadi untuk satu sekolah dengan semua guru berjumlah 30 orang dan siswa berjumlah 261 orang. PJJ berjalan lancar akan tetapi saya setiap 2 minggu harus mengahapus file drive agar kosong untuk digunakan pada pertemuan berikutnya.


Dampak: 

Dampak yang saya alami setelah mengajar dengan akun belajar.id sangat luar biasa. saya tinggal melanjutkan dengan akun belajar.id yang powerful karena sudah merasakan akun gmail pribadi yang terbatas. Apalagi didukung oleh Kemdikbud dengan akun pembelajaran berbasis Google Worksapce for Education begitu luar biasa. saya tidak perlu menghapus drive karena kapasitas yang unlimited sehingga lebih fokus pada pembelajaran yang seru dan menyenangkan bersama murid.


Solusi:

Panduan singkat cara menggunakan solusi Google dengan memanfaatkan Google Apps yang tersedia mulai dari Google Classroom, Drive, Google Meet dll sehingga Google Apps menjadi solusi terbaik PJJ saat ini dan di masa yang akan datang.


Kamis, 01 Juli 2021

KESEPAKATAN KELAS SEBAGAI LANGKAH AWAL DALAM MEMBANGUN BUDAYA POSITIF YANG BERPIHAK PADA MURID DI SEKOLAH

 

A.      Latar belakang tentang situasi yang dihadapi oleh Calon Guru Penggerak 

Guru berperan sebagai pamong yang selalu menuntun murid dalam belajar. Guru juga menjadi inisiator dalam mewujudkan budaya positif di sekolah yang berpihak pada murid. Mengapa budaya positif di sekolah perlu diwujudkan? mengenai potret budaya sekolah, kita dapat mempelajari budaya sekolah yang berdampak baik pada pengembangan karakter murid. Sebagai contoh misalnya aktivitas guru mengajak murid berkeliling sekolah untuk mengamati lingkungan sekolah dapat membuat murid menganalisis permasalahan yang terjadi di sekolah dan mendiskusikan solusinya. Aktivitas tersebut menumbuhkan karakter bernilai kritis pada murid. Oleh karena itu, kita sekarang dapat memahami bahwa sekolah merupakan institusi pembentukan karakter. Maka, budaya positif perlu diciptakan agar dapat mendukung pembentukan karakter murid yang diharapkan.

Budaya sekolah menurut Fullan (2007) adalah keyakinan-keyakinan dan nilai-nilai yang terlihat dari bagaimana sekolah menjalankan aktivitas sehari-hari. Sedangkan Deal dan Peterson (1999) mendefinisikan budaya sekolah sebagai berbagai tradisi dan kebiasaan keseharian yang dibangun dalam jangka waktu yang lama oleh guru, murid, orang tua, dan staf administrasi yang bekerjasama dalam menghadapi berbagai krisis dan pencapaian. 

Dari kedua pengertian tersebut kita melihat bahwa budaya sekolah merupakan nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan yang dibangun dalam jangka waktu lama yang tercermin pada sikap keseharian seluruh komponen sekolah. Dalam kebanyakan sekolah di Indonesia, contoh budaya sekolah yang sudah berjalan dengan baik adalah budaya senyum, salam, dan sapa. Tentunya, budaya sekolah tersebut masih perlu dilaksanakan mengingat perannya yang dapat membuat sekolah menjadi lingkungan yang nyaman. 

Budaya positif di sekolah ialah  nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab. Dalam mewujudkan budaya positif ini, guru memegang peranan sentral. Guru perlu memahami posisi apa yang tepat untuk dapat mewujudkan budaya positif baik lingkup kelas maupun sekolah. Selain itu, pemahaman akan disiplin positif juga diperlukan karena sebagai pamong, guru diharapkan dapat menuntun murid untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab.

Dalam menumbuhkan disiplin pada diri murid secara intrinstik, guru perlu berperan pada posisi kontrol manajer yang bertanya dan membuat kesepakatan kelas bila murid melakukan kesalahan atau pelanggaran, bukan menuduh, memberi hukuman atau sebagai teman yang membiarkan murid melakukan kesalahan atau pelanggaran. Hal ini dilakukan karena pendidik sebagai pamong yaitu “menuntun” atau memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. Anak diberi kebebasan, namun perlu  diberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Oleh karena itu, pada kesehariannya, pamong juga berperan sebagai pengontrol untuk mengingatkan murid jika berada dalam bahaya. Pada kesempatan lain, guru juga dapat berperan sebagai teman ketika berinteraksi agar dapat memahami murid dan membangun kedekatan.

Disiplin positif adalah sebuah model disiplin yang difokuskan pada perilaku positif murid agar menjadi pribadi yang penuh hormat dan bertanggung (Nelsen, Lott & Glenn, 2000). Disiplin positif mengajarkan keterampilan sosial dan emosional dan keterampilan kehidupan yang penting dengan cara penuh hormat  dan membesarkan hati tidak hanya bagi murid tetapi juga bagi orang dewasa (termasuk orangtua, guru, staf administrasi dan lainnya). Kebalikan dari disiplin positif adalah disiplin negatif yang berfokus pada hukuman. Disiplin negatif cenderung menghambat perkembangan sosial, emosional dan keterampilan hidup murid. Dengan disiplin positif, guru diharapkan dapat mewujudkan budaya positif baik di kelas maupun sekolah.

Untuk melakukan pendekatan disiplin positif, guru perlu menjadikan kriteria disiplin positif yang dikembangkan oleh Nelsen (2021) ini sebagai panduan dalam membangun hubungan dengan murid.

1.       Bersikap baik dan tegas di saat yang bersamaan (menunjukkan sikap hormat dan memberi semangat).

2.       Membantu murid merasa dihargai dan memiliki keterikatan antara dirinya dengan guru dan teman di kelasnya, sehingga ia merasa menjadi bagian dari kelas.

3.       Memiliki komitmen untuk mempertimbangkan efektivitas dan dampak jangka panjang bagi proses belajar murid dari tindakan yang diambil (misalnya; pemberian hukuman bersifat dapat menyelesaikan masalah dalam jangka pendek, tetapi berpotensi memberikan dampak negatif dalam proses belajar pada anak yang bersifat jangka panjang). Dengan begitu, pendidik fokus pada perubahan dan peningkatan perilaku yang menetap, bukan hanya pada perilaku yang berhasil ditampakkan pada saat itu.

4.       Menerapkan disiplin positif berarti membekali murid dengan keterampilan sosial dan mendukung pertumbuhan karakter yang baik seperti rasa hormat, kepedulian terhadap orang lain, komunikasi yang efektif, pemecahan masalah, tanggung jawab kontribusi, kerja sama.

5.       Mengajak murid untuk menemukan bagaimana mereka mampu dan dapat menggunakan kekuatan diri mereka dengan cara yang membangun.

Menerapkan pendekatan disiplin positif dapat membantu sekolah memainkan peran penting dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil dan manusiawi. Murid cenderung menjadikan orang dewasa sebagai model; jika  murid melihat orang dewasa menggunakan kekerasan fisik atau psikologis, mereka akan belajar bahwa kekerasan dapat diterima sehingga ada kemungkinan mereka akan menggunakan kekerasan terhadap orang lain. Sekolah memiliki peran penting dalam membimbing, memperbaiki, dan mensosialisasikan kepada  murid mengenai perilaku yang sesuai. Agar perubahan berhasil, diperlukan pendekatan terkoordinasi yang melibatkan semua peran di komunitas sekolah. Sekolah perlu bekerja dengan orangtua untuk memastikan konsistensi antara rumah dan sekolah, serta membekali mereka dengan informasi dan alat untuk mempraktekkan disiplin positif di rumah.

Upaya dalam membangun budaya positif di sekolah yang berpihak pada murid diawali dengan membentuk lingkungan kelas yang mendukung terciptanya budaya positif, yaitu dengan menyusun kesepakatan kelas. Kesepakatan kelas yang efektif dapat membantu dalam pembentukan budaya disiplin positif  di kelas. Hal ini juga dapat membantu proses belajar mengajar yang lebih mudah dan tidak menekan. Seringkali permasalahan dengan murid berkaitan dengan komunikasi antara murid dengan guru, terutama ketika murid melanggar suatu aturan dengan alasan tidak mengetahui adanya aturan tersebut. Kurang adanya komunikasi ini menyebabkan relasi murid dan guru menjadi kurang baik.

Kesepakatan kelas berisi beberapa aturan untuk membantu guru dan murid bekerja bersama membentuk kegiatan belajar mengajar yang efektif. Kesepakatan kelas tidak hanya berisi harapan guru terhadap murid, tapi juga harapan murid terhadap guru. Kesepakatan disusun dan dikembangkan bersama-sama antara guru dan murid.

Dalam menyusun kesepakatan kelas, guru perlu mempertimbangkan hal yang penting dan hal yang bisa dikesampingkan. Murid dapat mengalami kesulitan dalam mengingat banyak informasi, jadi susunlah 4 - 8 aturan untuk setiap kelas. Jika berlebihan, murid akan merasa kesulitan dan tidak mendapatkan makna dari kesepakatan kelas tersebut. Kesepakatan harus disusun dengan jelas sehingga murid dapat memahami perilaku apa yang diharapkan dari mereka. 

Kesepakatan yang disusun sebaiknya mudah dipahami dan dapat langsung dilakukan. Oleh karena itu, dalam kesepakatan kelas gunakan kalimat positif seperti, “Saling menghormati” ,“Berjalan jika berada di lorong kelas”. Kalimat positif lebih mudah dipahami murid dibandingkan kalimat negatif yang mengandung kata seperti, “dilarang” atau “tidak”. 

Kesepakatan perlu dapat diperbaiki dan dikembangkan secara berkala, seperti setiap awal semester. Untuk mempermudah pemahaman murid, kesepakatan dapat ditulis, digambar, atau disusun sedemikian rupa sehingga dapat dipahami dan disadari oleh murid. Strategi lain adalah dengan mencetaknya di setiap buku laporan kegiatan murid. Hal ini menjadi strategi yang baik untuk meningkatkan komunikasi antara orang tua dan pihak sekolah.

B.   Deskripsi Aksi Nyata yang dilakukan, berikut alasan mengapa melakukan aksi tersebut 

Aksi nyata yang dilakukan dimulai dari kelas saya sendiri sebagai langkah awal membangun budaya positif sekolah dengan membuat kesepakatan kelas. Isi dari kesepakatan kelas mengenai aturan yang membantu guru dan murid bekerja sama menciptakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang lebih efektif. Aturan dibuat bersama saya sebagai guru bersama murid-murid saya. Kesepakatan kelas yang dibuat tidak lebih dari 8 aturan pada setiap kelasnya supaya kesepakatan yang dibuat lebih bermakna. Kesepakatan kelas pun dibuat secara jelas sehingga murid dapat memahami perilaku apa yang diharapkan dari kesepakatan kelas tersebut.

Selain itu juga, kesepakatan kelas dibuat dengan menggunakan kalimat-kalimat yang positif misalnya “saling bekerjasama”, saling menghargai teman” dan lain-lain. Hindari menggunakan kalimat negatif seperti “jangan”/”dilarang” atau “tidak” karena murid akan lebih memahami kalimat positif dibandingkan kalimay negatif.

Kesepakatan kelas juga di evaluasi secara berkala. Bagaimana efektifitas dari kesepakat kelas selama satu semester?apakah guru dan murid sudah melaksanakan kesepakatan kelas?bagaimana jika ada guru dan murid yang melanggar kesepakatan kelas? Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan sebagian contoh saat dilakukan evaluasi dan umpan balik mengenai kesepakatan kelas.

 C.      Hasil dari Aksi Nyata yang dilakukan 

Hasil dari aksi nyata membuat kesepakatan kelas sebagai langkah awal dalam membangun budaya posistif yang berpihak pada murid di sekolah bahwa tersusunnya kesepakatan kelas antara guru dan murid. Terdapat 5 aturan yang dibuat hasil dari kesepakatan kelas.


D.      Pembelajaran yang didapat dari pelaksanaan (kegagalan, keberhasilan, dan hal-hal yang tidak sesuai dengan rancangan aksi nyata)

Pembelajaran yang diperoleh dalam menyusun kesepakatan kelas adalah kesepakatan kelas ini merupakan hal baru yang memerlukan pembiasaan pada kelas. Kesepakatan kelas bisa dibuat oleh wali kelas bersama murid-murid atau guru mata pelajaran bersama murid-murinya juga. Melalui penerapan hal baru ini tentunya memerlukan adaptasi secara perlahan sehingga kedepan guru dan murid terbiasa dengan adanya kesepakatan kelas ini.

 E.       Rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang

Rencana perbaikan mendatang, yaitu mengajak kepada seluruh kelas di awal tahun pelajaran baru membuat kesepakatan kelas dan dibuat poster kesepakatan kelas serta menempelkannya di kelas sehingga kesepakatan kelas akan terlihat terus setiap harinya. Guru dan murid berusaha mentaati aturan yang tertulis dalam kesepakatan kelas dan jika ada yang melanggar kesepakatan kelas akan diberikan pemahaman oleh guru sehingga terciptanya motivasi internal dari dalam diri murid yang akhirnya disiplin positif akanterbentuk menjadi budaya positif di kelas bahkan sekolah.

 F.       Dokumentasi proses dan hasil pelaksanaan berupa foto-foto berikut caption/narasi singkat nya. 

Kesepakatan kelas akan diterapkan di Tahun Pelajaran baru 2021/2022 mendatang pada tanggal 12 Juli 2021.  Berikut dokumentasi pertemuan awal dengan murid di akhir Tahun Pelajaran 2020/2021 bahwa mulai Tahun Pelajaran baru nanti akan dibuat Kesepakatan Kelas sebagai langkah awal mewujudkan budaya positif yang berpihak pada murid di kelas dan sekolah.


















Rabu, 28 April 2021

KONEKSI ANTAR MATERI-KESIMPULAN DAN REFLEKSI PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA

 

KONEKSI ANTAR MATERI-KESIMPULAN DAN REFLEKSI PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA

LUQMAN HAKIM, M.PD.

(Guru SMAN 2 Siak Kecil Provinsi Riau-CGP Angkatan 2 Kab. Bengkalis Tahun 2021)

 

Setelah mengikuti alur aktivitas pembelajaran PGP ini, di awali kegitan mulai dari diri, eksplorasi konsep, ruang kolaborasi, refleksi terbimbing, demontrasi kontektual dan elaborasi pemahaman, tiba saatnya masuk pada tahapan koneksi antar materi sekarang ini. Tahap aktivitas pembelajaran koneksi antar materi berupa kesimpulan dan refleksi pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD).

Yang memperkuat pemahaman itu saat aktivitas elaborasi pemahaman yang dilaksanakan pada hari Senin, 26 April 2021 dengan konsep kegiatan berupa webinar. Hadir narasumber ahli dan saksi hidup yaitu Bapak Ki Prio Dwiarso dari Perguruan Taman Siswa yang dipandu oleh Bapak Simon Rafael selaku penulis modul pemikiran KHD. Dengan hadirnya Ki Prio dan pertanyaan dari Pak Simon yang mendalam tentang pemikiran KHD menjadikan pemahaman saya mengenai pemikiran KHD menjadi lebih kuat karena saya merasa setelah mengikuti tahapan aktivitas pembelajaran, kegiatan elaborasi ini betul-betul menguatkan pemahaman saya mengenai pemikiran KHD ini.

Ki Prio Dwiarso ini semasa KHD, saat itu masih kelas 4, beliau sangat merasakan didikan dari KHD. Beliau bercerita saat guru ilmu bumi sekarang geografi menggambar peta Indonesia di papan tulis, KHD malah mengajak anak-anak untuk keluar kelas agar membuat peta pulau jawa menggunakan pasir di luar kelas. Kemudian KHD mengangkat batu dan bertanya kepada anak-anak mengenai beberapa daerah agar menunjukan daerah dengan meletakkan batu di peta jawa yang terbuat dari pasir tersebut. Hal ini menurut Ki Prio apa yang sudah dilakukan KHD adalah kegiatan bermain sambil belajar. Bermain sebagai kodrat anak-anak sebagai insan di dunia dari Allah SWT, anak saat belajar tidak boleh ada paksaan. Misalnya saat anak memecahkan gelas itu hal biasa karena ketidaktahuannya maka anak itu diberitahu dengan baik.

Selanjutnya menurut Ki Prio, menyatakan bahwa Ki Hadjar itu sederhana saja mengenai konsep sekolah seperti taman dengan sistem among yang memerdekakan lahir dan bathin sejak dini. Nuansa saat belajar d sekolah semuanya muatannya dengan permainan misalnya untuk mengingat abjad atau huruf dengan cara dinyanyikan. Ki Prio bercerita sampai sekarang aktivitas saat belajar dengan KHD saat itu masih teringat sampai sekarang sehingga saya bisa bercerita apa yang pernah saya alami saat itu.

Ki Prio melanjutkan paparannya bahwa KHD itu pemikirannya untuk multikultur dan nasionalis. KHD berkonsultasi dengan KH Ahmad Dahlan sebagai senior dari KHD mengenai pendidikan. Seperti kita ketahui bahwa KH Ahmad Dahlan tokoh dari Muhammadiyah yang sampai sekarang terus berkembang pendidikan Muhammadiyah di berbagai daerah di Indonesia. KH Ahmad Dahlan menyarankan kepada KHD agar membuat Perguruan Nasional sehingga pada tahun 1922 KHD mendirikan Taman Siswa. Pendirian Taman Siswa ini sebagai bentuk perguruan nasional yang mereformasi pendidikan dengan melihat bakat anak, yang memerdekakan lahir dan bathin. Perguruan Taman Siswa menggunakan asas kekeluargaan terdiri dari keluarga, sekolah dan masyarakat atau pemuda. Keluarga merupakan bagian yang utama sebagai pembentukan karakter dasar bagi anak seperti yang diterapkan pada pendidikan pondok pesantren, perguruan dan sekolah taruna yang pembelajarannya berbasis asrama, hal ini merupakan bagian dari perguruan Taman Siswa.

Metode Ki Hadjar itu relevan untuk masa depan. KHD ini brilian bertalenta yang berpikir melalui zamannya. KHD berupaya menyiapkan jiwa yang merdeka lahir dan bathin. Saat masa penjajahan kolonial berupaya untuk kemerdekaan bangsa dalam mencapai kemanusiaan yang adil dan beradab. Pemikiran KHD ini dapat berlaku selamanya dengan adanya kodrat alam dan kodrat zaman untuk kemajuan. Kodrat alam sebagai kuasa Tuhan, kodrat Allah, setiap anak sudah memiliki bakat, talenta, minat serta garisnya masing-masing. Sebagai guru mesti mengetahui bakat dan minat anak serta tidak boleh memaksakan kepada anak akan sesuatu hal. Teori Tabula rasa yang menyatakan bahwa setiap anak itu ibarat kertas kosong, kita sebagai guru bisa menuliskan apa saja dalam kertas itu. KHD menentang teori Tabula Rasa ini karena KHD menyatakan bahwa setiap anak sudah memiliki garis yang masih suram sebagai guru bertugas menebalkanya. Asalkan minat yang positif dari anak kita hasrus dukung seperti kepada anak kandung kita. Misalnya keinginan anak untuk menjadi tentara yang kita tuntun untuk mengikuti pendidikan di akabari.

Trilogi Pendidikan dari KHD yang kita kenal sebagai semboyan Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Mandyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Sebagai urutan semboyan ini dimulai dari Tut Wuri Handayani, sebagai guru kita menuntun anak agar aktif untuk mencari tahu tidak hanya pasif diberi tahu. Siswa diarahkan untuk mempelajari terlebih dahulu sebelum pembelajaran dilakukan dari berbagai sumber pembelajaran sehingga akan membangkitkan rasa ingin tahu dari anak. Yang kedua, Ing Madyo Mangun Karso, semangat dalam hal yang positif yang memberikan manfaat untuk masyarakat dan bangsa dan yang terakhir, Ing Ngarso Sung Tulodo, sehingga bisa memberi teladan.

Asas Trikon dalam pendidikan juga sangat penting. Yang pertama konvergen, yaitu keterbukaan akan dunia luar. Yang kedua konsentris, terus dipertahankan budaya luhur kita seperti bhineka tunggal ika, musyawarah mufakat, gotong royong sebagai akar budaya kita dan yang ketiga kontinue bahwa hasil budaya kita terus dipertahankan atau diolah secara terus menerus demi keberlanjutan bangsa dan Negara kita.

Yang saya percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum mempelajari modul ini bahwa murid saya itu memiliki kemampuan yang seragam sehingga dalam pembelajaran menggunakan metode yang konvensional juga. Murid juga bukan bagian dari fokus saya sebagai guru hanya sebatas melaksanakan kewajiban tugas sebagai guru semata sehingga pembelajaran dilakukan alakadarnya saja.

Yang berubah dari pemikiran dan perilaku saya setelah mempelajari modul ini adalah:

1.    Murid menjadi fokus utama saya sebagai guru,

2.  Murid memiliki bakat dan minatnya masing-masing, guru bertugas menuntun murid sesuai minat dan bakatnya juga

3.    Metode bermain saat pembelajaran ini mesti diterapkan karena bermain sebagai kodrat anak-anak di dunia,

4.    Sekolah menerapkan sistem among karena sekolah seperti taman yang menyenangkan dalam rangka memerdekakan lahir bathin anak sejak dini,

5.    Pendidikan karakter dari keluarga menjadi hal utama sebagai pendidikan karakter dasar bagi anak yang didukung pendidikan karakter baik di sekolah maupun di masyarakat yang mengedepankan asas kekeluargaaan,

6.    Adanya kodrat alam dan kodrat saman karena bagian dari kuasa Tuhan, kodrat Allah bahwa setiap anak itu sudah memiliki bakat, minat, talenta dan garis yang ditetapkan, tidak boleh memaksakan kehendak kita kepada anak, minat anak yang positif perlu kita dukung sebagai guru harus mengetahui bakat dan minat setiap anak.

7.    Murid perlakukan seperti anak kandung yang berupaya mendidik dengan penuh kasih saying.

Yang bisa segera saya terapkan lebih baik agar kelas saya mencerminkan pemikiran KHD adalah

1.    Saya segera memetakan minat dan bakat yang ada pada murid-murid saya.

2.    Saya segera mengubah pola pikir saya bahwa murid menjadi fokus utama saya sebagai guru.

3. Saya akan segera memperbaharui metode pembelajaran dari konvensional menjadi pembelajaran dengan metode PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan) dalam rangka memerdekakan lahir bathin anak sejak dini.

4.   Saya segera memperlakukan murid seperti anak kandung agar berupaya mendidik seperti anak sendiri dengan penuh kasih sayang.

Demikian kesimpulan dan refleksi saya mengenai pemikiran KHD baik sebelum, sesudah mempelajari modul serta penerapan bagi saya sebagai guru di sekolah. Terima Kasih.

3.3.a.10. AKSI NYATA PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID DI SMAN 2 SIAK KECIL PROVINSI RIAU

  3.3.a.10. AKSI NYATA PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID DI SMAN 2 SIAK KECIL PROVINSI RIAU Oleh : LUQMAN HAKIM SMAN 2...