3.1.a.8.1 Koneksi Antar Materi
PENGAMBILAN
KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN
Oleh :
LUQMAN HAKIM
SMAN 2 Siak Kecil
PGPAngkatan 2 Kab.Bengkalis
Fasilitator : Firdaus, M.Pd
Pengajar Praktik : Hj. Nani Handayani,
S.Pd
·
Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan
filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan
keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?
Ki Hadjar Dewantara mengatakan,
seorang guru itu ibarat petani yang menanam benih pada tanah, jika benih
tersebut meski dengan kualitas sedang namun ditanam pada tanah yang subur
diberi pupuk dan dialiri air yang cukup, maka akan tumbuh menjadi
tumbuhan yang subur, begitu pula sebaliknya, Meski benih tersebut berkualitas
baik namun ditanam pada tanah yang gersang dan tidak diairi air secukupnya maka
benih tersebut tidak akan tumbuh.
Filosofi yang sangat terkenal juga dari Bapak
Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, yaitu :
Pratap Triloka sebuah filosofi mengenai sosok guru
dan perannya di dalam pendidikan seorang anak.
“Ing ngarso sung tulodho” yang secara spesifik
memiliki arti di depan memberikan teladan, merupakan peran seorang sosok guru
untuk selalu memberikan teladan atau contoh bagi murid-muridnya. Untuk dapat
memberikan teladan, maka seorang guru harus terlebih dahulu menghidupi
keteladanan tersebut. Seorang guru dapat menjadi teladan dengan terlebih dahulu
menempatkan kepentingan murid menjadi sebuah fokus utama.
Dalam istilah lain KHD juga menyebutkan bahwa guru
haruslah menghamba pada anak, menghamba dalam artianya seorang guru memberi
kebebasan kepada muridnya untuk melakukan sesuatu sesuai dengan potensi yang
dimilikinya, guru bertugas sebagai fasilitator untuk menuntun atau mengarahkan
murid agar potensi tumbuh kembang sesuai kodrat iradatnya.
“Ing madyo mangun karso” memiliki arti di tengah
memberikan serta membangun semangat. Sebagai penyemangat, maka seorang guru
harus terlebih dahulu dipenuhi oleh semangat tersebut. Semangat yang membara
untuk murid-muridnya dapat mencapai kemajuan serta kebahagiaan. Di sinilah
peran guru untuk terus menyemangati agar murid-muridnya agar bertahan dan terus
maju.
Guru dapat berperan sebagai rekan/ teman/ sahabat
bahkan orang tua bagi murid agar mereka merasa tidak sendirian dalam mengarungi
pendidikan yang sedang dijalani dan memiliki kepercayaan bahwa guru akan selalu
ada memberikan kekuatan dan tuntunan di saat yang paling dibutuhkan. Guru juga
akan selalu memberi semangat dan mendoakan sampai kapanpun.
“Tut wuri handayani” memiliki arti mengikuti serta
memberikan dorongan dari belakang. Dalam hal ini guru berperan sebagai
motivator bagi murid dengan memberi kesempatan/peluang seluas-luasnya untuk mulai
melangkah secara mandiri dalam menemukan potensinya, guru terus membimbing apa
yang dibutuhkan oleh murid tersebut untuk membangkitkan kembali semangatnya
dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya.
·
Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri
kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan
suatu keputusan?
Setiap guru memiliki karakter
yang beragam, akan tetapi jika guru nilai-nilai seperti nilai mandiri,
reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak kepada murid, yang sudah tertanam
pada diri seorang guru maka ketika dihadapkan untuk mengambil sebuah keputusan,
maka seorang guru tersebut akan mampu mengambil keputusan terbaik yang bijak dan
menjadi solusi bagi semua.
·
Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan
pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’
(bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses
pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah
kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada
pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut.
Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada
modul 2 sebelumnya.
Dalam pengambilan suatu keputusan tentunya harus
memiliki sebuah landasan berupa fakta-fakta dari situasi yang dihadapi, di
dalam menggali fakta-fakta tersebut langkah yang efektif dapat memanfaatkan
parktek coaching sehingga kita bisa menggali hal-hal penting atau informasi
yang dapat membantu kita untuk menentukan keputusan yang bijak.
·
Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada
masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang
pendidik.
Agar dalam pengambilan sebuah
keputusan yang tepat dan tidak melanggar paradigma dilema etika, pada studi
kasus, adanyanstudi kasus yang tentunya menambah pemahaman dalam memahami studi
yang berisi dilemma etika atau kasus yang merujuk pada bujukan moral sehingga
akan terlihat perbedaan diantara keduanya. Pada setiap studi kasus
·
Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat,
tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan
nyaman.
Sebagai pemimpin pembelajaran agar dalam mengambil keputusan nantinya
menjadi tepat maka perlu mempertimbangkan bahwa keputusan kita akan berdampak
pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Namun
dalam pengambilan keputusan, dapat mengkaji 9 langkah-langkah dalam pengambilan
keputusan :
1)
Mengenali adanya nilai nilai yang saling bertentangan,
2)
Mempertimbangkan siapa saja yang terlibat dalam
situasi tersebut,
3)
Mengumpulkan seluruh data dan fakta yang
relevan, lalu kita wajib
4)
Menguji benar lawan salah. Uji tersebut dapat
meliputi:
a.
uji legal untuk melihat apakah ada ranah hukum
yang dilanggar,
b.
uji regulasi profesionalitas untuk melihat
apakah ada yang bertentangan dengan aturan secara profesional,
c.
uji intuisi mengecek apa kata hati nurani kita,
d.
uji publikasi dan juga
e.
uji panutan atau idola.
5)
Bila keputusan tersebut lolos melalui uji benar
lawan salah, maka harus dilakukan uji benar lawan benar di mana kita dapat
memandangnya dari empat paradigma yang ada meliputi:
a.
Individu lawan masyarakat (individual vs community),
b.
rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy),
c.
kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty), dan
d.
jangka pendek lawan jangka panjang (short term
vs long term).
6)
Kemudian permasalahan ini kita coba cari
resolusinya dengan menggunakan cara pandang atau prinsip resolusi penyelesaian
dilema. Apakah kita akan memandangnya melalui prinsip
a.
Berpikir Berbasis Hasil Akhir (End-Based Thinking),
b.
Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), atau
c.
Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
7)
Kemudian kita juga dapat mencari jalan tengah
yang dapat diambil atau seringkali disebut Investigasi Opsi Trilema agar
keputusan tidak harus saling berlawanan (win
win solution).
8)
Bila semua telah dipertimbangkan maka kita dapat
dengan yakin mengambil keputusan akhir yang terbaik serta
9)
Direfleksikan kembali, apakah keputusan tersebut
sudah yang terbaik yang dapat diambil.
·
Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di
lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan
terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan
paradigma di lingkungan Anda?
Kesulitan-kesulitan dalam pengambilan keputusan
sulit dan bertentangan seringkali terletak pada paradigma masing masing pihak
dalam memandang situasi tersebut. Semua pihak yang terlibat mesti memiliki cara
pandang yang sama serta penekanan kepentingan yang selaras, maka akan mdah
dijadikan sebuah keputusan yang baik.
Bila semua dapat berkomunikasi dengan baik dan
menyatukan pendapat mengenai paradigma yang akan dipakai dalam memutuskan
sebuah permasalahan, maka kesulitan-kesulitan tersebut akan dapat diatasi.
·
Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan
keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid
kita?
Sebagai pemimpin pembelajaran, guru harus tepat
dalam mengambil keputusan. Ketika seorang guru mengambil sebuah keputusan yang
berpihak kepada murid dengan melihat potensi atau minat murid tersebut maka
hasil keputusan akan berdampak baik bagi murid kedepannya.
·
Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam
mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan
murid-muridnya?
Murid ibarat kata sebuah benih yang dirawat untuk
tumbuh. Namun dalam menuntun tumbuh kembang murid menjadi manusia yang mendapat
kebahagiaan guru harus tepat dalam mengambil keputusan untuk muridnya. Sehingga
ketika seorang guru mampu mengenali karakter atau apa yang dibutuhkan oleh
muridnya, maka guru tersebut akan mengambil keputusan yang terbaik untuk muridnya.
·
Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda
tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul
sebelumnya?
Menuntun tumbuh kembang kodrat anak agar dapat
menjadi manusia yang sebenar-benarnya serta mendapatkan kebahagiaan yang
setinggi-tingginya. Seorang guru sebagai pamong semestinya mampu memberikan
sebuah keputusan yang tepat untuk murid-muridnya. Guru harus memiliki nilai dan
peran yang sebagai pemimpin pembelajaran sehingga ketika nilai dan peran
tersebut diterapkan maka akan mampu menuntun tumbuh kembang anak mengembangkan
potensi anak sesuai kodrat nya, diantaranya dengan menerapkan budaya-budaya
positif kepada anak sehingga dengan melalui budaya positif tersebut karakter
anak perlahan-lahan akan terbentuk, serta menumbuhkan kesadaran sosial
emosional anak dengan menerapkan beberapa teknik tertentu.
Melalui proses pembelajaran pula guru dapat
memenuhi kebutuhan murid dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi,
sehingga apa yang dibutuhkan setiap anak pada saat itu akan terpenuhi.
Selain itu dalam menumbuhkan kepercayaan diri
seorang anak dan menemukan solusinya sendiroi serta mengembangkan kemampuan
berpikir kritis anak, guru dapat melakukan coaching
kepada anak yang terlihat memiliki sebuah permasalahan. Dengan menuntunnya
dalam menemukan sendiri solusi dari permasalahannya maka anak tersebut dapat
belajar untuk menghadapi atau memecahkan sendiri permasalahan yang dihadapinya
dikemudian hari.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar