LUQMAN HAKIM, M.Pd (SMAN 2 SIAK KECIL PROVINSI RIAU) SAHABAT RUMAH BELAJAR (SRB) 2020 RIAU RUMAH BELAJAR KEMDIKBUD belajar.kemdikbud.go.id FITUR UTAMA: SUMBER BELAJAR-KELAS DIGITAL-LABORATORIUM MAYA-BANK SOAL

Kamis, 14 Oktober 2021

3.1.a.8.1 Koneksi Antar Materi PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN


 

3.1.a.8.1 Koneksi Antar Materi

PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

Oleh :

LUQMAN HAKIM

SMAN 2 Siak Kecil

PGPAngkatan 2 Kab.Bengkalis

Fasilitator : Firdaus, M.Pd

Pengajar Praktik : Hj. Nani Handayani, S.Pd

 

·         Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

 

Ki Hadjar Dewantara mengatakan, seorang guru itu ibarat petani yang menanam benih pada tanah, jika benih tersebut meski dengan kualitas sedang namun ditanam pada tanah yang subur  diberi pupuk dan dialiri air yang cukup, maka akan tumbuh menjadi tumbuhan yang subur, begitu pula sebaliknya, Meski benih tersebut berkualitas baik namun ditanam pada tanah yang gersang dan tidak diairi air secukupnya maka benih tersebut tidak akan tumbuh.

 

Filosofi yang sangat terkenal juga dari Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, yaitu :

Pratap Triloka sebuah filosofi mengenai sosok guru dan perannya di dalam pendidikan seorang anak.

“Ing ngarso sung tulodho” yang secara spesifik memiliki arti di depan memberikan teladan, merupakan peran seorang sosok guru untuk selalu memberikan teladan atau contoh bagi murid-muridnya. Untuk dapat memberikan teladan, maka seorang guru harus terlebih dahulu menghidupi keteladanan tersebut. Seorang guru dapat menjadi teladan dengan terlebih dahulu menempatkan kepentingan murid menjadi sebuah fokus utama. 

 

Dalam istilah lain KHD juga menyebutkan bahwa guru haruslah menghamba pada anak, menghamba dalam artianya seorang guru memberi kebebasan kepada muridnya untuk melakukan sesuatu sesuai dengan potensi yang dimilikinya, guru bertugas sebagai fasilitator untuk menuntun atau mengarahkan murid agar potensi tumbuh kembang sesuai kodrat iradatnya.

 

“Ing madyo mangun karso” memiliki arti di tengah memberikan serta membangun semangat. Sebagai penyemangat, maka seorang guru harus terlebih dahulu dipenuhi oleh semangat tersebut. Semangat yang membara untuk murid-muridnya dapat mencapai kemajuan serta kebahagiaan. Di sinilah peran guru untuk terus menyemangati agar murid-muridnya agar bertahan dan terus maju. 

 

Guru dapat berperan sebagai rekan/ teman/ sahabat bahkan orang tua bagi murid agar mereka merasa tidak sendirian dalam mengarungi pendidikan yang sedang dijalani dan memiliki kepercayaan bahwa guru akan selalu ada memberikan kekuatan dan tuntunan di saat yang paling dibutuhkan. Guru juga akan selalu memberi semangat  dan mendoakan sampai kapanpun.

 

“Tut wuri handayani” memiliki arti mengikuti serta memberikan dorongan dari belakang. Dalam hal ini guru berperan sebagai motivator bagi murid dengan memberi kesempatan/peluang seluas-luasnya untuk mulai melangkah secara mandiri dalam menemukan potensinya, guru terus membimbing apa yang dibutuhkan oleh murid tersebut untuk membangkitkan kembali semangatnya dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya.

 

·         Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Setiap guru memiliki karakter yang beragam, akan tetapi jika guru nilai-nilai seperti nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak kepada murid, yang sudah tertanam pada diri seorang guru maka ketika dihadapkan untuk mengambil sebuah keputusan, maka seorang guru tersebut akan mampu mengambil keputusan terbaik yang bijak dan menjadi solusi bagi semua.

·         Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Dalam pengambilan suatu keputusan tentunya harus memiliki sebuah landasan berupa fakta-fakta dari situasi yang dihadapi, di dalam menggali fakta-fakta tersebut langkah yang efektif dapat memanfaatkan parktek coaching sehingga kita bisa menggali hal-hal penting atau informasi yang dapat membantu kita untuk menentukan keputusan yang bijak.

 

·         Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Agar dalam pengambilan sebuah keputusan yang tepat dan tidak melanggar paradigma dilema etika, pada studi kasus, adanyanstudi kasus yang tentunya menambah pemahaman dalam memahami studi yang berisi dilemma etika atau kasus yang merujuk pada bujukan moral sehingga akan terlihat perbedaan diantara keduanya. Pada setiap studi kasus

·         Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Sebagai pemimpin pembelajaran agar dalam mengambil keputusan nantinya menjadi tepat maka perlu mempertimbangkan bahwa keputusan kita akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Namun dalam pengambilan keputusan, dapat mengkaji 9 langkah-langkah dalam pengambilan keputusan :

 

1)      Mengenali adanya nilai nilai yang saling bertentangan,

 

2)      Mempertimbangkan siapa saja yang terlibat dalam situasi tersebut,

 

3)      Mengumpulkan seluruh data dan fakta yang relevan, lalu kita wajib

 

4)      Menguji benar lawan salah. Uji tersebut dapat meliputi:

 

a.       uji legal untuk melihat apakah ada ranah hukum yang dilanggar,

 

b.      uji regulasi profesionalitas untuk melihat apakah ada yang bertentangan dengan aturan secara profesional,

 

c.       uji intuisi mengecek apa kata hati nurani kita,

 

d.      uji publikasi dan juga

 

e.      uji panutan atau idola.

 

5)      Bila keputusan tersebut lolos melalui uji benar lawan salah, maka harus dilakukan uji benar lawan benar di mana kita dapat memandangnya dari empat paradigma yang ada meliputi:

 

a.       Individu lawan masyarakat (individual vs community),

 

b.      rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy),

 

c.       kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty), dan

 

d.      jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term).

6)      Kemudian permasalahan ini kita coba cari resolusinya dengan menggunakan cara pandang atau prinsip resolusi penyelesaian dilema. Apakah kita akan memandangnya melalui prinsip

 

a.       Berpikir Berbasis Hasil Akhir (End-Based Thinking),

 

b.      Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), atau

 

c.       Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

 

7)      Kemudian kita juga dapat mencari jalan tengah yang dapat diambil atau seringkali disebut Investigasi Opsi Trilema agar keputusan tidak harus saling berlawanan (win win solution).

 

8)      Bila semua telah dipertimbangkan maka kita dapat dengan yakin mengambil keputusan akhir yang terbaik serta

 

9)      Direfleksikan kembali, apakah keputusan tersebut sudah yang terbaik yang dapat diambil.

 

 

·         Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Kesulitan-kesulitan dalam pengambilan keputusan sulit dan bertentangan seringkali terletak pada paradigma masing masing pihak dalam memandang situasi tersebut. Semua pihak yang terlibat mesti memiliki cara pandang yang sama serta penekanan kepentingan yang selaras, maka akan mdah dijadikan sebuah keputusan yang baik. 

Bila semua dapat berkomunikasi dengan baik dan menyatukan pendapat mengenai paradigma yang akan dipakai dalam memutuskan sebuah permasalahan, maka kesulitan-kesulitan tersebut akan dapat diatasi.

 

·         Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Sebagai pemimpin pembelajaran, guru harus tepat dalam mengambil keputusan. Ketika seorang guru mengambil sebuah keputusan yang berpihak kepada murid dengan melihat potensi atau minat murid tersebut maka hasil keputusan akan berdampak baik bagi murid kedepannya.

 

·         Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Murid ibarat kata sebuah benih yang dirawat untuk tumbuh. Namun dalam menuntun tumbuh kembang murid menjadi manusia yang mendapat kebahagiaan guru harus tepat dalam mengambil keputusan untuk muridnya. Sehingga ketika seorang guru mampu mengenali karakter atau apa yang dibutuhkan oleh muridnya, maka guru tersebut akan mengambil keputusan yang terbaik untuk muridnya.

·         Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Menuntun tumbuh kembang kodrat anak agar dapat menjadi manusia yang sebenar-benarnya serta mendapatkan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Seorang guru sebagai pamong semestinya mampu memberikan sebuah keputusan yang tepat untuk murid-muridnya. Guru harus memiliki nilai dan peran yang sebagai pemimpin pembelajaran sehingga ketika nilai dan peran tersebut diterapkan maka akan mampu menuntun tumbuh kembang anak mengembangkan potensi anak sesuai kodrat nya, diantaranya dengan menerapkan budaya-budaya positif kepada anak sehingga dengan melalui budaya positif tersebut karakter anak perlahan-lahan akan terbentuk, serta menumbuhkan kesadaran sosial emosional anak dengan menerapkan beberapa teknik tertentu. 

 

Melalui proses pembelajaran pula guru dapat memenuhi kebutuhan murid dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, sehingga apa yang dibutuhkan setiap anak pada saat itu akan terpenuhi. 

 

Selain itu dalam menumbuhkan kepercayaan diri seorang anak dan menemukan solusinya sendiroi serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis anak, guru dapat melakukan coaching kepada anak yang terlihat memiliki sebuah permasalahan. Dengan menuntunnya dalam menemukan sendiri solusi dari permasalahannya maka anak tersebut dapat belajar untuk menghadapi atau memecahkan sendiri permasalahan yang dihadapinya dikemudian hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

3.3.a.10. AKSI NYATA PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID DI SMAN 2 SIAK KECIL PROVINSI RIAU

  3.3.a.10. AKSI NYATA PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID DI SMAN 2 SIAK KECIL PROVINSI RIAU Oleh : LUQMAN HAKIM SMAN 2...